It’s not about what happened in the past, or what you think might happen in the future. It’s about the ride. There’s no point in going through all this crap, if you are not going to enjoy the ride. And when you least expect, something great might come along. Something better than you even planned for.
“
| — |
Irving Feffer - along came polly
|
Tiba-tiba aku nemu isi chat jaman dlu sama seorang teman. Cerita keluh kesahku ttg kak agam. Terus aku cerita isi chat aku ke kak agam, kak agam cuman ngakak sambil ngerasa ‘duh ko dulu saya nyebelin bgt ya’.
Aku juga bingung, ‘kak ko dulu aku mau berjuang ya?’
Akhirnya percakapan ditutup dengan tawa. Gak ada penyesalan dari masa lalu. Toh pada akhirnya aku merasakan sesuatu yang emang worth to fight di masa lalu ;D
Kamu terlalu bangga dengan prestasi kamu di masa lalu. Dan yang lebih salah lagi adalah prestasi masa lalu itu kamu jadikan excuse untuk masa sekarang bahkan masa depan.
“
| — |
Kak Agam, yang marah-marah, saat aku sering bilang ‘dulu kan aku….’
|
Mendengar keputusanku, Ahmad berkata, “Pulanglah! Di rumahlah akan kau temukan apa yang selama ini hilang. Apa yang kau cari selama ini, sebenarnya ada di rumah. God is Great!
“
| — |
agustinus wibowo dalam Titik Nol pg 529
|
Rumi, sang guru sufi pernah berkata, “Tuhan menghadapkanmu dari satu perasaan ke perasaan lain. Dia mengajar dirimu dengan pertentangan yang saling berlawanan, sehingga kau akan punya dua sayap untuk terbang, bukan cuma satu.
Cermin. Ya, tak salah jika orang bilang, hidup itu adalah sebilah cermin. Dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang diri. Jika dunia penuh kebencian dan musuh ada di mana-mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kaukira dunia penuh orang egois, itu tak lain adalah bayangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia yang muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia di matamu selalu tersenyum rama, berterimakasihlah pada hatimu yang diliputi cinta. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada perbuatan pasti ada balasan. Semua itu simetris.
“
| — |
agustinus wibowo dalam Titik Nol pg 424
|
Ternyata, sunggug mudah untuk berbahagia. Berbahagia itu sederhana. Tak perlu menunggu jadi kaya raya atau mengenakan mahkota raja. Semua orang bisa berbahagia saat ini juga, kalau mau.
Ada riset mengatakan, otak orang berbahagia lebih merespons secara positif terhadap hal-hal kecil dan sepele, yang sering terlewat oleh orang lain. Kebahagiaan itu adalah menemukan bahwa kitab tanpa aksara, kitab suci paling mulia dan sempurna itu, ternyata tidak perlu dicari lagi. Dia ada dimana-mana. Dia ada di sinar mentari dan daun-daun berguguran, Dia ada di serpihan salju dan gunung-gunung megah, Dia ada pada gelak tawa dan ratapan orang-orang, Dia ada pada siulan para gembala dan setiap embusan napas, Dia ada begitu dekat bersemayam di hati, Dia ada dalam diriku juga dirimu.
“
| — |
agustinus wibowo dalam Titik Nol pg 318
|
Berhentilah mebaca aksara-aksara dan berteori panjang-lebar. Menceburlah ke jalan, jalanilah jalan, resapilah jalan. Mungkin disana, di ujung jalan, akan kautemukan sebuah kitab kosong tanpa aksara.
“
| — |
agustinus wibowo dalam Titik Nol pg 260
|
Seorang nyonya Tionghoa yang menemani pasian sebelah mendengar obrolan kami.
“Cik, maaf, ngo menyela,” katanya, “Tacik kalau pernah kena kanker, sebenarnya obatnya mudah: memaafkan. Ada rindu, ada cemburu, ada dendam, ada benci, ada marah, lepaskan semua. Maafkan berserah pada Tuhan. Dijamin, pasti sembuh. Jangan dipendam, penyakit itu semua asalnya dari pikiran. Saudara ngo juga begitu, tapi bisa sembuh sesudah memaafkan. Maafkan, biarjan semua yang berlalu itu berlalu, Cik, maafkan…
“
| — |
agustinus wibowo dalam Titik Nol pg 246
|
Seorang nyonya Tionghoa yang menemani pasian sebelah mendengar obrolan kami.
“Cik, maaf, ngo menyela,” katanya, “Tacik kalau pernah kena kanker, sebenarnya obatnya mudah: memaafkan. Ada rindu, ada cemburu, ada dendam, ada benci, ada marah, lepaskan semua. Maafkan berserah pada Tuhan. Dijamin, pasti sembuh. Jangan dipendam, penyakit itu semua asalnya dari pikiran. Saudara ngo juga begitu, tapi bisa sembuh sesudah memaafkan. Maafkan, biarjan semua yang berlalu itu berlalu, Cik, maafkan…
“
| — |
agustinus wibowo dalam Titik Nol pg 246
|